Jacobin jenis merpati “tertua” yang selalu menawan dan modis

HEADLINE MERPATI

Selama ini penghobi merpati di Indonesia selalu di indentikkan dengan jenis beberapa merpati saja, seperti merpati kolong, merpati tinggian, merpati balap dan jenis lainnya, padahal jenis dan penyebutan merpati itu sangat banyak. Salah satunya yang perlu diketahui adalah merpati hias dengan banyak ragamnya . avesnews.com  akan menuliskan satu persatu jenis merpati hias yang popularitasnya sudah mendunia dan akan di mulai dengan jenis merpati hisa jenis Jacobin. Dimana jenis merpati hias ini adalah jenis merpati paling modis sedunia karena tampilan bulu (leher) yang unik dan menawan.

 

Jenis merpati hias Jacobin sendiri merupakan burung merpati  yang paling tua di dunia, sampai sampai asal usul jenis burung ini tidak diketahui. Peyebutan jenis merpati Jacobin sendiri diambil karena mirip dengan para biarawan Jacobin, yang selalu memakai tudung kepala berbulu. Ternyata burung ini juga merupakan kesayangan Ratu Victoria Inggris.

 

Namun para ahli percaya bahwa Jacobin adalah burung dari negeri India dan ahli lainnya mengatakan bahwa Jacobin adalah burung asli Siprus. Jacobin sendiri berkembang biak sejak abad ke-16. Meski sudah berkembang biak selama berabad abad dan pada 80 tahun terakhir terlihat ada perubahan karakter pada bentuk fisik burung, tubuhnya menjadi agak kecil, ramping dengan pastur yang lebih sedang dengan bulu dan kakinya lebih panjang dengan ekor lebih ramping.

 

Keindahan jenis merpati hias yang satu ini terlihat dari tampilan bulu halus di lehernya dan dengan bentuk bulu yang unik, yang melekat di lehernya, merpati jenis Jacobin ini seakan memakai “jaket bulu” sehingga membuat burung ini tampak cantik dan “modis”. Dengan bulu lebat dan tegak di lehernya, membuat kepala burung ini hanya bisa terlihat dari depan. Posturnya yang tegap, membuat burung ini nampak lebih anggun dan menawan.

 

Merpati hias jacobin mempunyai cirri khas yang mencolok pada kepalanya yang seolah bermantel, kepala berwarna putih seolah pakai kopiah haji,  sedang leher sampai badannya berwarna primer (selain warna putih), dilanjut corak warna pada sayap sekundernya dan pada ekornya berwarna dasar (primer) putih. Bodi sedikit terangkat, dan ekor jatuh kelantai, hal ini untuk membedakan dengan jenis capuchine (Old Dutch Capuchine) yang berbadan/bodi datar dan ekor sejajar dengan bodi.

 

Karena keunikannya jenis burung ini banyak diburu oleh para kolektor merpati hias. Bahkan, kepemilikan burung Jacobin juga menjadi pendongkrak prestisius sang pemilik. Sama seperti burung dara lainnya, Jacobin ini juga cukup mudah dalam hal perawatan hingga budidayanya. Peminat burung ini pun dari hari ke hari makin bertambah. Hal inilah yang membuat prospek bisnis budidaya burung merpati hias, jenis Jacobin ini cukup bagus.

 

 

 

 

 

 

Merpati hias Jacobin sangat cocok dibudidakan di Indonesia, karena merpati hias ini termasuk mudah dalam perawatan.  Sistem ternak untuk burung merpati Jacobin ini ada tiga macam, yaitu yang pertama adalah system umbaran. System umbaran kurang cocok dilakukan untuk merpati hias seperti Jacobin. Kedua, system baterry, yaitu dalam satu kandang diisi hanya sepasang Jacobin. Namun, umumnya system ini juga jarang dipakai, karena biaya pembuatan dan perawatan yang mahal. Dan, yang terakhir, atau yang ketiga adalah system koloni. Umumnya untuk budidaya Jacobin adalah menggunakan system koloni, dimana sebuah kandang besar, diisi oleh beberapa pasang Jacobin. Untuk harga anakan Jacobin yang sudah lepas sapih, sepasang bisa mencapai harga Rp 500 ribu hingga Rp 1 Jutaan.

bagikan :

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.