Lika-Liku Hasan Tangkar Cucak Hijau, Suksesnya Merangsang Inspirasi Baru Buat Komunitas Breeder

BREEDING HEADLINE KICAUAN

Hadirnya Wabah Pandemi Covid 19, sebagian besar masyarakat Tanah Air ibarat menunggu jatuh ke jurang kebangkrutan, namun dibenak Moch. Hasan, gaung penyebaran virus corona tak meluluhkan jiwa hobinya dalam berkarya.

Moch. Hasan (41) yang berprofesi sebagai pemborong bangunan yang dikenal masyarakat kicaumania sebagai penangkar murai yang sukses sekaligus pencetak burung berkicau yang berprestasi di arena lomba. Sedikitnya dalam setahun ini, pria yang akrab disapa Hasan disibukkan dengan penangkaran jenis Cucak Hijau yang terbilang baru di dunia penangkaran Tanah air. Hampir di setiap pagi hari, warga Rungkut Kidul Gg.III Surabaya ini, otak atik piyik an Cucak Hijau yang sudah berusia 10 harian.

Tak heran, di depan rumahnya, ayah dua putri ini ditemani 2 ekor anakan Cucak Hijau untuk dirawat, dilolohi beberapa x-fooding jangkrik sebagai menu utama yang bergantian dengan voor buatan sendiri. Selain itu, rutinitas jemur sang baby sekitar sejam sehabis diberi sarapan. “Lika liku menangkar khususnya Cucak Hijau ini baru setahun, tepatnya tahun 2019 lalu saya tertarik ingin menangkar jenis Cucak Hijau yang konon kabarnya sulit untuk diternak,” ucap Hasan awal membuka pengalamannya. Hasan menceritakan, kalau saya punya satu gaco Cucak Hijau yang bernama Codot dan prestasinya tak terhitung tersebut mulai saya carikan betina untuk diternak. Meski diakui Hasan, Codot sempat dipinang dengan mahar 32 juta.

PIYIK. C. HIJAU. Anak-an pertama dari ke 4 x hasil produksi

Namun dalam perjalanan proses penangkaran, kata Hasan, Dia tidak langsung menangguk keberhasilan, melainkan dalam setahun proses breeding yang rata-rata telurnya 2-3 butir tersebut, selama masa produksi 3 kali mengalami sedikit kegagalan. Tantangan ini dimata suami tercinta Imnatusholikah merupakan suatu hal dalam meniti sebuah perjuangan hobinya. Dengan jiwa yang tinggi dan tidak pantang menyerah, Hasan tetap semangat dalam mewujudkan impiannya.

Puncaknya dalam proses produksi ke 4 kalinya, urai Hasan, Ia sudah bisa membuktikan hasilnya. “Awalnya anakan Cucak Hijau tidak waktunya dipisahkan dari indukannya, karena waktu itu saya kerja luar kota, dan istri saya yang melihat ada anak Cucak Hijau jatuh dari sarangnya, langsung mengambilnya sekaligus awal mula piyik Cucak Hijau dilepas dari indukan, pertimbangannya karena dalam dasar kandang besar ada semacam genangan air untuk mandinya indukan, yang takutnya nanti anakan masuk dalam genangan air tersebut yang berujung kematian,” kenang Hasan mengkopi laporan istrinya.

Ternyata jatuhnya anak Cucak Hijau tersebut karena kaget terhadap sesuatu yang ada di lingkungannya. Dari pengalaman tersebut Hasan sedikit demi sedikit mengetahui faktor kegagalan dari beternak Cucak Hijau yang sifatnya peka terhadap suara keras atau kebisingan dari lingkungan kandang walaupun memakai sangkar pun bisa asalkan lingkungannya aman dari kebisingan. “Saya menyimpulkan, dari pengalaman dalam setahun, 3 kali kegagalan yang telurnya tidak bisa menetas dengan sempurna lantaran adanya kebisingan lingkungan kandang yang membuat telur yang sudah terlihat oroknya tapi tidak ada kehidupan,” papar breeder yang punya Ring HSN BF.

TIPS PENJODOHAN. Adopsi dari ilmu breeding murai

Dengan keberhasilan ini, Hasan menjaga ketat dengan kasih sayangnya terhadap anakan Cucak Hijau yang sudah berumur 10 hari tersebut sembari menyiapkan  proses penjodohan. Proses penjodohan yang mengadopsi dari pengalamannya di murai batu yang dirintis sejak 2015 hingga sekarang ini, tidak ada problem yang signifikan, “Proses penjodohannya kurang lebih sama dengan muraibatu, sepasang calon induk terpisah dalam dua sangkar, kurang lebih dalam 3 hari kedua calon induk terlihat berdampingan dalam tidurnya, menandakan sepasang calon induk tersebut bisa dibilang jodoh,” sambung pria yang merupakan anggota Murai Mania Sidoarjo (MMS) dalam ceritanya.

Saat ini pria yang dulunya berhasil mencetak murai bernama Hammer sarat prestasi yang sempat berlomba di Negara Singapura segala dan raih juara 1, sempat menolak pinangan dengan mahar 700 juta, dalam waktu dekat membangun beberapa kandang besar buat muraibatu, cucak hijau dengan ukuran L=1m, P x T masing-masing 2m. “Dengan keberhasilan ternak Cucak Hijau ini, saya dalam waktu dekat membangun kandang besar dengan ukuran seperti kandang lawasnya, buat Cucak Hijau, Cucak Cungkok maupun Muraibatu. Semoga dengan niat baik ini, dapat support dari sesama anggota MMS maupun komunitas lain,” kata Hasan berharap.

BKSDA SIDAK HASAN, HSN BF RESMI BERDAMPINGAN DENGAN RING MMS

HASAN feat MMS. Keberhasilannya mendapat pujian dari BKSDA

Atas keberhasilan Hasan mengembangbiakan jenis Cucak Hijau lantaran vakum lomba imbas dari virus korona, menuai pujian kalangan anggota MMS dan sekaligus merangsang inspirasi baru buat anggota MMS maupun komunitas lainnya, khususnya breeder yang belum mencoba menangkar Cucak Hijau. “Jujur kami sebagai pimpinan MMS mengucapkan selamat atas kesuksesan Pak Hasan ternak Ijo yang mustahil bisa diternak selama ini,” kata Sugeng Heran. Bahkan kesuksesan ini juga mendapatkan perhatian dari pihak BKSDA Jawa Timur dalam pendataan yang langsung didatangi 4 petugas sidak di kediaman Hasan dan disaksikan oleh para pengurus MMS yang dinahkodai Sugeng MMS. Bukan hanya itu, pihak BKSDA merasa terbantu atas keberhasilan Hasan yang sudah memiliki sertifikat kepada Cucak Hijau sebelum ditangkar tersebut dan mendata kembali keberadaan anak an Cucak Hijau yang ditunjukkan langsung pada pihak yang merupakan wakil Pemerintah tersebut.

RING MMS. Resmi terpasang
RING HSN BF. Resmi berdampingan dengan RING MMS

Dalam sarannya, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Surabaya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dodit Ari Guntoro, yang panjang lebar pada para tamu Hasan yang mengharapkan seluruh kicaumania yang memiliki satwa yang merupakan Tumbuhan Satwa Liar (TSL) bisa langsung mendatakan diri ke pihaknya dan sifatnya gratis. “Bahkan soal pendataan bisa langsung secara online, di website kami : bbksdajatim.org, selanjutnya dari pihak kami yang akan langsung meninjau keberadaan lokasinya misalnya pihak pendata memiliki usaha breeding seperti Pak Hasan ini,” ungkap Dodit.

KETUA MMS. Sugeng saat menjelaskan sertifikat trotol resmi dikeluarkan buat breeder MMS

Kehadiran petugas TSL tersebut juga mendapat sambutan hangat dari pihak MMS, kata Sugeng, cukup responsip kepada pihak BKSDA, dan merasa terhormat atas kedatangan mereka dan siap mendata seluruh anggota MMS agar kedepannya tidak melanggar rambu-rambu yang diatur dalam Permen LHK No. P.106 Th.2018 tentang pemanfaatan jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Sugeng menguraikan, sedikitnya 300 lebih anggota MMS yang tersebar di 12 kota besar tanah air, dan 138 anggota yang sukses ternak muraibatu, karena itu seluruh anggota tersebut mendapat dua sertifikat plus Ring MMS, pertama sertifikat untuk kepemilikan penangkarannya yang isinya antara lain asal usul indukan, sedangkan sertifikat kedua, isinya mendata keberadaan piyik yang sudah menetas. “Kami atas nama keluarga besar MMS, pada hari ini (Rabu-7/7/2020) resmi memutuskan kalau hasil ternakannya Pak Hasan jenis Cucak Hijau memakai Ring MMS selain Ring HSN BF milik beliaunya,” tegas Sugeng yang diamini anggota MMS yang hadir.

RAHASIA NUTRISI ALA HASAN, BUAH CERES BAIK BUAT GIZI PIYIK USIA DINI

BUAH CERES. Terinspirasi dari burung kutilang yang sering hinggap di pohon Ceres

Rahasia Hasan dalam genjot nutrisi untuk breeding Cucak Hijau tidak beda dengan breeding pada umumnya, mungkin yang membedakan porsinya saja karena pertimbangan hal birahi burung kalau diternak membutuhkan gizi seimbang. “Jangkrik, buah merupakan wajib, dan kalau bisa jangan sampai berkurang untuk menjaga keseimbangan gizi saat masa kawin maupun mengeram,” ulas Hasan awal rahasia nutrisi buat breedingnya. Pasalnya, X-Fooding jangkrik tidak terbatas, kecuali saat penjodohan ada ukurannya agar terkontrol birahinya dan soal buah bisa bergantian mulai pepaya, pisang, pir dan apel.

JEMUR SEJAM. Tiap hari yang manfaatnya merontokkan ketombe piyik

Menariknya lagi, saat piyik sudah menetas, indukan butuh gizi tinggi dalam suapi anaknya. Kata Hasan, sebaiknya anak an di usia 2 hari, diberi buah ceres untuk nutrisi turunannya selama anak an menjelang muar. Inspirasi buah ceres ini, menurut Hasan, terinspirasi dari burung-burung di alam (seperti kutilang) yang seringkali dilihatnya hinggap di pohon ceres. Dalam surveinya, Hasan seringkali menemui di pohon-pohon Ceres ada sepasang induk burung kutilang yang selalu memetik buah ceres untuk dibawah ke sarangnya, ternyata dilolohkan pada anaknya, dari situ Dia memastikan kalau buah ceres baik buat piyik. “Hanya saja, buah ceres yang baik dipilih yang setengah matang, jangan yang terlalu matang karena gampang busuk,” pesan Hasan dalam obrolan penutup.Klik Disini melihat videonya atau buka avesnews channel di link Youtube

 

bagikan :

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.