Mengintip Emergency Grojokan Sewu CH Erick Sanders 77 Lumajang Saat Naik Turun Lomba

KICAUAN TIPS DAN TRIK
JAGA BIRAHI. Tangan dimasukkan untuk memancing emosinya

Siapa yang tidak kenal dengan Cucak Hijau yang satu ini, yang aksinya seringkali mendulang prestasi  di event-event tingkat nasional baik di Jawa maupun Bali. Untuk lebih dekat tahu soal perilaku Gojokan Sewu (GS) andalan Ericks Sanders 77 dari Lumajang ini, avesnews berhasil ngobrol banyak dengan Udin pemandu bakat GS, orang yang dipercaya Ericks selama ini hingga nama GS melambung hingga saat ini.

Sebenarnya kalau ditelisik perilaku GS dalam persiapan sebelum beraksi tidak beda dengan Cucak Hijau-Cucak hijau pada umumnya. Menurut Udin diawal cerita, persiapan GS di lapangan kalau mau naik cukup dijejali 1-2 ekor jangkrik, tidak perlu kenceng” cukup dibantu makan buah pisang sembari nunggu session ijo dimulai. “Tapi kalau cuacanya agak mendung, bisa diberi hongkong secukupnya,” imbuh Udin.

Uniknya lagi perlakuan GS saat mau naik bila keblabasan birahinya, pria bersahabat ini langsung tanggap bila GS birahinya naik. Oleh karena itu, emergencynya, Udin langsung memasukan tangannya dengan cara digerak-gerakkan di depan GS untuk memancing emosi GS. “Tapi perlakuan ini, dilakukan saat GS keblabasan biarahinya, tapi bila kondisinya enak atau kelihatan stabil tidak perlu ada cara seperti ini. Karena itu, sebagai pemandu harus tanggap, stabil tidaknya burung bila burung yang akan dilombakan,” tambah pria mantan pemandu anis merah legendaris “Juventus” milik Om Thay Lumajang panjang lebar.

GS sudah dikenal burungnya stabil dan sekali tampil dalam satu event bisa 5 kali beraksi. Ternyata untuk stabilnya GS dalam setiap session sebenarnya tidak sulit yang dibayangkan, menurut Udin cukup menyamakan extra fooding di setiap sessionnya. “ Perilaku GS habis tampil, pemberian extra fooding seperti jangkrik tidak beda porsinya dari sessi awal naik hingga naik berikutnya, dan tidak lebih dari 1-2 ekor jangkrik,” sambung Udin. “Kalau perlu untuk menstabilkan birahinya, cukup burung diasingkan dari bisingan burung-burung sejenis, agar emosi gacornya tidak terpancing dan minum secukupnya serta full kerodong,” imbuh pemandu yang dikenal kekeh pada prinsipnya dalam merawat burung.

Yang jelas menjaga stabilnya GS bukan hanya di lapangan tapi harian pun tetap terjaga, seperti pemberian jangkrik dalam hariannya, Udin mengaku cukup pagi sore 5 ekor jangkrik (pagi 3 sore 2). “Tapi bila GS kelihatan birahinya naik porsinya dikurangi,”ujarnya. Bukan hanya itu, pisangnya pun Udin lebih memilih pisang kepok yang dagingnya putih, tapi bila kondisinya GS dalam BAB nya tidak lancar, pisangnya diganti dengan pepaya. “Pisang kepok cukup baik untuk stabilnya ijo, tapi bila BAB susah langsung saya ganti dengan pepaya,” imbuhnya.

Sedangkan untuk mandinya GS, menurut Udin ketemunya GS hanya mandi seminggu dua kali, cukup hari senin habis lomba dan Jum’at menjelang lomba. Tapi perlakuan ini juga sama meski burung tidak dilombakan. “Untuk jemur, cukup 1-2 hari dalam seminggu, biasanya waktu jemur tiap Selasa dan Rabu saja, hari lain cukup diangin-anginkan hingga jam 12 siang lalu kerodong full,” ujarnya panjang lebar dalam obrolan penutup saat menghadiri event Bali Shanti Cup IV, Minggu (28/4) lalu di Korem, Denpasar Bali.

 

 

 

bagikan :

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.